Postingan

Menampilkan postingan dengan label Artikel

Bonus Demografi dan Pemerataan Pendidikan

Jakarta  - Tahun 2018 akan segera berakhir dan kedatangan bonus demografi semakin mendekat. Diperkirakan Indonesia akan menikmati bonus demografi pada tahun 2020 hingga 2035. Menjadi suatu kebanggaan bagi negara apabila dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Pasalnya, bonus demografi jarang sekali terjadi di suatu negara. Bonus demografi merupakan keadaan di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk non produktif (usia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). Saat ini pemerintah sedang berupaya keras untuk dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal melalui peningkatan kualitas pada generasi muda. Salah satu langkah agar bonus demografi menjadi berkah bagi negara yaitu meningkatkan kualitas pendidikan melalui akses pendidikan yang meluas, merata, dan berkeadilan. Menurut data BPS, pada 2014 persentase pengangguran terbuka masih ter...

Memperhatikan Kemiskinan Anak

Hampir 73 tahun Indonesia terlepas dari tangan penjajah. Berbagai perjuangan telah dilakukan agar negeri ini dapat merasakan kemerdekaan. Akan tetapi, bukan berarti Indonesia saat ini telah terlepas dari permasalahan-permasalahan. Hal ini dibuktikan masih banyak penduduk yang hidup miskin, terutama anak-anak. Berdasarkan data dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2016, apabila tingkat kemiskinan dilihat berdasarkan kelompok umur, presentase penduduk miskin anak-anak (0-17 tahun) lebih tinggi daripada presentase penduduk miskin secara umum yaitu sebesar 13,31 persen. Hal tersebut dapat terjadi diduga anak-anak masih memiliki ketergantungan hidup terhadap orang-orang di sekitarnya. Selain itu, anak-anak secara fisik dan psikologi belum mampu terlibat aktif dalam kegiatan perekonomian. Kemiskinan anak dapat diukur melalui 2 pendekatan yaitu pendekatan moneter dan pendekatan multidimensi. Melalui pendekatan moneter, perhitungan kemiskinan dilihat dari sebagian dari...

Ujian Nasional, Antara Hasil dan Proses

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Ujian Nasional (UN) 2016 sudah di depan mata. Tidak hanya pelajar, pihak sekolah dan orang tua telah bersiap-siap dalam menghadapinya. Berbagai macam cara telah dilakukan demi kelancaran pelaksanaan UN. Belajar dari UN 2015, masih banyak ditemukan kasus kecurangan pada saat pelaksanaan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa pelaksanaan UN 2015 untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) masih ditemukan kasus kecurangan, terutama dalam perilaku menyontek. Selain itu, terdapat kebocoran soal UN yang sengaja diunggah di Google Drive. Rasa tidak percaya diri yang dimiliki, dikarenakan pelajar lebih berorientasi terhadap hasil dan bukan terhadap proses. Pelajar merasa kecewa karena usaha yang telah dilakukan selama ini sia-sia apabila belum mendapatkan hasil yang baik. Pelajar menganggap semua yang dilakukan selama ini tiada berguna. Apalagi ada pelajar lain yang mendapatkan hasil lebih baik daripada dirinya, padahal usaha yang dilakukan selama ini ti...